Di
daerah Klaten terdapat sebuah tempat yang dikeramatkan yaitu sejenis
pemandian kolam yang di sebut dengan umbul manten dan umbul pelem.
Konon ada cerita unik atas terbentuknya umbul tersebut.
Umbul
Pelem
Disebut Umbul Pelem konon dahulu lokasi tersebut tumbuh sebuah pohon pelem yang besar di sekitar umbul. Namun, setalah sekian lama pohon pelem tersebut kini sudah tidak ada, yang ada hanya sebuah pohon beringin yang sangat besar, sehingga membuat lokasi sekitar umbul menjadi teduh.
Umbul pelem dipercaya orang yang mempunyai kedududukan jika melakukan kungkum supaya mudah untuk naik pangkat, hal ini terbukti banyak ditemukannya sajen yang berupa kembang setaman (bunga yang berwarna-warni yang biasa digunakan untuk ritual dalam masyarakat jawa), terutama pada hari-hari tertentu, terutama pada hari jumat kliwon.
Umbul Menten
Ada cerita rakyat yang beredar di masyarakat mengenai asal muasal umbul ini. Konon dahulu ada sepasang pengantin baru. Pengantin ini diberi wejangan oleh kedua orang tuanya, “kalo pengantin baru itu, dilarang keluar rumah bersama-sama menjelang senja (maghrib) sebelum 40 hari”.
Pasangan pengantin tersebut bertanya “mengapa mereka dilarang keluar rumah menjelang senja sebelum 40 hari”. Dijawab oleh orang tua tersebut, “kalian ndak perlu membantah. turuti saja dan kalian akan selamat”, dengan nada sedikit marah karena nasehatnya dibantah.
Pengantin tersebut suatu hari sebelum 40 hari keluar rumah bersama-sama. Saat itu menjelang senja. Sang suami berjalan mendahului istrinya. Setelah berjalan lama, sang suami menengok ke belakang dan menemukan istrinya menjauh kemudian lenyap. Begitu juga dengan sang istri, ketika dia mengejar sang suami ternyata suaminya semakin jauh dan akhirnya lenyap. Letak kedua umbul inilah disinyalir sebagai lokasi di mana kedua suami istri itu lenyap.
Ada juga masyarakat yang percaya jika pasangan suami istri yang lama tidak mempunyai keturunun dan ingin mendapatkan keturunan harus berendam semalaman di umbul Manten. Air di umbul Manten juga sering digunakan untuk siraman pada pernikahan adat jawa, orang yang sering mengambil air di Umbul Manten ini terutama orang dari kawasan solo dan jogja sedangkan oaring sekitar hanya memanfaatkan air tersebut untuk mandi dan pengairan di sawah-sawah.
Disebut Umbul Pelem konon dahulu lokasi tersebut tumbuh sebuah pohon pelem yang besar di sekitar umbul. Namun, setalah sekian lama pohon pelem tersebut kini sudah tidak ada, yang ada hanya sebuah pohon beringin yang sangat besar, sehingga membuat lokasi sekitar umbul menjadi teduh.
Umbul pelem dipercaya orang yang mempunyai kedududukan jika melakukan kungkum supaya mudah untuk naik pangkat, hal ini terbukti banyak ditemukannya sajen yang berupa kembang setaman (bunga yang berwarna-warni yang biasa digunakan untuk ritual dalam masyarakat jawa), terutama pada hari-hari tertentu, terutama pada hari jumat kliwon.
Umbul Menten
Ada cerita rakyat yang beredar di masyarakat mengenai asal muasal umbul ini. Konon dahulu ada sepasang pengantin baru. Pengantin ini diberi wejangan oleh kedua orang tuanya, “kalo pengantin baru itu, dilarang keluar rumah bersama-sama menjelang senja (maghrib) sebelum 40 hari”.
Pasangan pengantin tersebut bertanya “mengapa mereka dilarang keluar rumah menjelang senja sebelum 40 hari”. Dijawab oleh orang tua tersebut, “kalian ndak perlu membantah. turuti saja dan kalian akan selamat”, dengan nada sedikit marah karena nasehatnya dibantah.
Pengantin tersebut suatu hari sebelum 40 hari keluar rumah bersama-sama. Saat itu menjelang senja. Sang suami berjalan mendahului istrinya. Setelah berjalan lama, sang suami menengok ke belakang dan menemukan istrinya menjauh kemudian lenyap. Begitu juga dengan sang istri, ketika dia mengejar sang suami ternyata suaminya semakin jauh dan akhirnya lenyap. Letak kedua umbul inilah disinyalir sebagai lokasi di mana kedua suami istri itu lenyap.
Ada juga masyarakat yang percaya jika pasangan suami istri yang lama tidak mempunyai keturunun dan ingin mendapatkan keturunan harus berendam semalaman di umbul Manten. Air di umbul Manten juga sering digunakan untuk siraman pada pernikahan adat jawa, orang yang sering mengambil air di Umbul Manten ini terutama orang dari kawasan solo dan jogja sedangkan oaring sekitar hanya memanfaatkan air tersebut untuk mandi dan pengairan di sawah-sawah.
Keterangan :
pohon
pelem : nama lain dari pohon mangga
kungkum :berendam
dalam waktu tertentu di dalam air
sajen
: persembahan berupa hasil bumi / syarat
senja
: waktu maghrib
kembang setaman
: bunga yang berwarna-warni yang biasa digunakan untuk ritual dalam
masyarakat jawa

0 komentar:
Posting Komentar